SEMEN
Perkembangan semen dimulai dari penelitian
insinyur dari Inggris, Jhon Smealton pada abad ke-18, dikembangkan kembali oleh
insinyur Inggris Joseph Aspdin sehingga pada tahun 1824 temuannya dikenal
dengan nama Semen Portland. Pada
tahun 1845 Isaac Johnson melakukan penelitian dan hasilnya sangat berperan
dalam perkembangan industry semen modern.
Semen merupakan material perekat untuk
kerikil, pasir, batubata dan material sejensi lainnya. Bahan baku utama semen
adalah kapur (CaO), silica (SiO2), alumina (Al2O3)
dan besi oksida (FeO3). Sumber kapur bias diperoleh dari limestone,
chalk, dan marl. Sumber silica dan alumina bisa diperoleh dari clay dan shale.
Sedangkan besi oksida diperoleh dari penambangan pasir besi.
Pemahaman tentang karakteristik semen
sangantlah penting untuk mendapatkan hasil yang optimal, baik dari segi
kualitas, daya tahan dan ekonomis (biaya). Dipasaran ada 2 type semen untuk
aplikasi umum seperti Semen type 1
dan Semen type PCC.
Ada
beberapa standar semen yang berlaku seperti :
1.
ASTM C 150 (Amerika)
Dikeluarkan sejak tahun 1940 dan
terbagi menjadi 5 tipe semen :
1)
Tipe I :
untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus
2)
Tipe II :
untuk penggunaan yang memerlukan ketahan terhadap sulfat atau kalor
hidrasi
sedang
3)
Tipe III :
untuk penggunaan yang memerlukan kekuatan tekan awal tinggi
4)
Tipe IV :
untuk penggunaan yang memerlukan kalor hidrasi rendah
5)
Tipe V :
untuk penggunaan yang memerlukan ketahahan tinggi terhadap sulfat
2. ASTM C 595
(Amerika)
Dikeluarkan sejak tahun 1967 dan
terbagi menjadi 6 tipe semen :
1)
Tipe IS : Portland blast-furnace slag
cement
2)
Tipe IP : Portland-pozzolan cement
3)
Tipe P : Portland-pozzolan cement
4)
Tipe I(PM) :
Pozzolan modified Portland cement
5)
Tipe I(SM) :
Slag-modified Portland cement
6)
Tipe S :
Slag cement
3. ASTM C
1157 (Amerika)
Dikeluarkan sejak tahun 1992 dan
terbagi menjadi 6 tipe semen :
1)
Tipe GU :
untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan khusus
2)
Tipe HE :
untuk penggunaan yang memerlukan kekuatan tekan awal tinggi
3)
Tipe MS :
untuk penggunaan yang memerlukan ketahahan sedang terhadap
Sulfat
4)
Tipe HS :
untuk penggunaan yang memerlukan ketahahan tinggi terhadap sulfat
5)
Tipe MH :
untuk penggunaan yang memerlukan kalor hidrasi sedang
6)
Tipe LH :
untuk penggunaan yang memerlukan kalor hidrasi rendah
4. Standar EN
197-1 (Eropa)
Standar EN membagi semen menjadi 5
ketegori utama :
1)
CEM I :
Portland cement
2)
CEM II :
Portland composite cement
3)
CEM III :
Blastfurnace cement
4)
CEM IV :
Pozzolanic cement
5)
CEM v :
Composite cement
Standar EN
197-1 membagi semen menjadi 5 kelas, yang menunjukan kelas strength dalam MPa
dalam umur 28 hari :
1) 32,5N
2) 32,5R
3) 42,5N
|
4)
42,5R
5)
52,5N
6)
52,5R
|
Catatan: N
= Normal, menunjukan perkembangan kuat tekan
R = Rapid, menunjukan kelas semen dengan
kekuatan awal tinggi yang diukur dalam
waktu 2 hari
5.
Standar SNI (Indonesia)
Beberapa semen yang beredar dipasaran
Indonesia :
1)
Semen Portland putih, mengacu pada SNI
15-0129-2004
Dapat digunakan untuk semua tujuan didalam pembuatan adukan semen
dan beton yang tidak memerlukan persyaratan khusus
2)
Semen
Portland, mengacu pada SNI 15-2049-2004
Membagi semen menjadi 5 jenis :
1) Jenis I : untuk penggunaan umum yang tidak memerlukan persyaratan
khusus
2) Jenis II : untuk penggunaan yang memerlukan ketahan terhadap sulfat
atau
kalor hidrasi sedang
3) Jenis III : untuk penggunaan yang memerlukan kekuatan tekan awal tinggi
4) Jenis IV : untuk penggunaan yang memerlukan kalor hidrasi rendah
5) Jenis V : untuk penggunaan yang memerlukan ketahahan tinggi terhadap sulfat
3)
Semen Portland Komposit, mengacu pada SNI
15-7064-2004
Disebut semen Portland komposit karena sudah ditambahan bahan
anorganik material tertentu guna mendapatkan karakteristik semen yang
diinginkan.
Berikut beberapa zat
adiktif dan kegunaannya :
1) Kalsium
karbonat : untuk menurunkan bleeding,
meningkatkan workability sehingga mudah dikerjakan, mengurangi kebutuhan air
dan pengaruh pada beton keras (yakni mengurani retak, memperbaiki homogenitas
campuran akibat turunya segragasi)
2) Abu
terbang (Fly Ash) : menambah kekuatan tekan beton pada akhir umur 28 hari,
tapi pada awal umur akan menurunkan laju perkembangan kuat tekan, memperlambat
waktu ikat, dan memperbaiki ketahanan terhadap sulfat
3) Silica
Fume : untuk menurunkan bleeding, meningkatkan cohesiveness, relative tidak
berpengaruh terhadap perkembangan kuat tekan.
Beberapa
Semen Khusus :
1.
Semen Sumur Pemboran (Oil Well Cement, OWC)
Semen jenis ini harus memiliki karakteristik permeabilitas yang
rendah, mampu memberikan ikatan yang baik antara batuan dan selimut lubang
pemboran, serta mampu mempertahankan karakteristiknya dalam kondisi ekstrim
temperature dan tekanan pada lubang pemboran.
API spec-10 dari American Petroleum Institute, mengklasifikasikan
menjadi 8 kategori:
1)
Kelas A :
untuk kedalaman hingga 1830 m dan tidak memerlukan persyaratan khusus
2)
Kelas B :
untuk kedalaman hingga 1830 m dan memerlukan ketahanan terhadap sulfat
3)
Kelas C :
untuk kedalaman hingga 1830 m dan memerlukan kekuatan awal tinggi
4)
Kelas D :
untuk kedalaman 1830 m hingga 3050 m dan memerlukan ketahanan terhadap sulfat
dan tahan terhadap kondisi tekanan serta temperature sedang
5)
Kelas E :
untuk kedalaman 3050 m hingga 4270 m dan memerlukan ketahanan terhadap
temperature dan tekanan sedang hingga tinggi
6)
Kelas F :
untuk kedalaman 3050 m hingga 4880 m dan memerlukan ketahanan terhadap sulfat,
temperature dan tekanan ekstrim
7)
Kelas G dan H : untuk kedalaman hingga 2440 m,
digunakan bersama accelerator atau retarders dan punya ketahanan terhadap
sulfat.
2.
Hight Alumina Cement (HAC)
HAC menghasilkan beton dengan tingkat kekuatan tekan awal yang
sangat tinggi (sekitar 80% dari total kekuatan bisa dicapai dalam 24 jam),
tahan terhadap sulfat dan larutan asam, tapi tidak tahan terhadap kondisi
alkali.
3.
Masonry cement
Semen ini sangat cocok untuk pekerjaan non-struktur seperti pasangan bata dan plesteran, acian.